Selamat Datang Di Blog Sederhana Saya

Friday, 3 January 2020

MAKALAH Penerapan Motivasi Sebagai Penggerak Etos Kerja Islami


MAKALAH
Penerapan Motivasi Sebagai Penggerak Etos Kerja Islami

 Oleh : Satria Avianda Nurcahyo

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Dalam kehidupan sehari-hari, manusia dituntut untuk memenuhi kebutuhannya agar dapat melangsungkan kehidupannya. Salah satu cara untuk memenuhi kebutuhan tersebut adalah dengan bekerja. Namun sebagai orangmukmin, kita juga harus memperhatikan ajaran dan norma yang telah ditetapkan oleh Nabi Muhammad kepada kita. Karena Nabi Muhammad adalah seorang Uswah Hasanah yang telah memberikan banyak contoh dalam kehidupan kita dan tidak diragukan lagi kebenarannya.
Dalam konteks ajaran Islam tentang perekonomian (iqtishadiyah), bekerja adalah modal dasar ajaran Islam itu sendiri. Sehingga disebutkan seorang muslim yang bekerja adalah orang mulia, sebab bekerja adalah bentuk ibadah yang merupakan kewajiban setiap orang yang mengaku mukmin.Namun, dalam bekerja juga harus disertai dengan niat yang benar.Sebab, motivasi kerja merupakan dasar bagi manusia untuk memperoleh nilai ibadah dari Allah SWT.Karena segala sesuatu tergantung dari niatnya. Sehingga apabila niat kita salah dalam bekerja, maka kita tidak akan pahala dari Allah, dan amalan kita menjadi sia-sia di akhirat. Oleh sebab itu, dalam pembahasan ini, kami akan menjelaskan bagaimana motivasi kerja yang benar dalam Islam.



B.     Rumusan Masalah
1.      Apa itu Motivasi dari Sudut Konvensional dan Islami
2.      Teori – Teori Motivasi Konvensional
3.      Bagaimana Etos Kerja Islami
4.      Apakah Dampak Pemberian Imbalan dan Hukuman Bagi Karyawan





       BAB II
PEMBAHASAN
A.   Motivasi Dari Sudut Konvensional dan Islami
Motivasi Dari Sudut Konvensional
Motivasi berasal dari kata lain “Movere” yang berarti dorongan atau bahasa Inggrisnya to move. Motif diartikan sebagai kekuatan yang terdapat dalam diri organisme yang mendorong untuk berbuat (driving force). Motif tidak berdiri sendiri, tetapi saling berkaitan dengan faktor-faktor lain, baik faktor eksternal, maupun faktor internal. Hal-hal yang mempengaruhi motif disebut motivasi. Michel J. Jucius menyebutkan motivasi sebagai kegiatan memberikan dorongan kepada seseorang atau diri sendiri untuk mengambil suatu tindakan yang dikehendaki.Menurut Dadi Permadi, motivasi adalah dorongan dari dalam untuk berbuat sesuatu, baikyang positif maupun yang negatif.
Motivasi Kerja dalam Islam
Dalam buku yang berjudul Bekerja dengan Hati Nurani karya Akh. Muwafik Saleh,dikatakan bahwa selama ini, banyak orang bekerja untuk mengajar materi belaka demi kepentingan duniawi, mereka tak sedikitpun memerdulikan kepentingan akhirat kelak. Oleh karena itu sudah saatnya para pekerja bekerja dengan motivasi yang dapat memberikan kepribadian yang baik dan dibenarkan oleh Islam yang harus memenuhi ciri-ciri sebagai berikut:

1.       Niat Baik dan Benar (Mengharap Ridha Allah SWT)
Sebelum seseorang bekerja, harus mengetahui apa niat dan motivasi dalam bekerja, niat inilah yang akan menentukan arah pekerjaan. Jika niat bekerja hanya untuk mendapatkan gaji, maka hanya itulah yang akan didapat. Tetapi jika niat bekerja sekaligus untuk menambah simpanan akhirat, mendapat harta halal, serta menafkahi keluarga, tentu akan mendapatkan sebagaimana yang diniatkan. Rasulullah SAW bersabda:
Dari Saad bin Abu Waqqash ra, Rasulullah SAW bersabda kepadanya: “Sesungguhnya apa saja yang kamu nafkahkan (bekerja) yang kamu niatkan untuk mencari keridhaan Allah niscaya kamu akan diberi pahala sebagai apa yang kamu sediakan untuk makan istrimu.” (HR. Bukhari-Muslim).


2.       Takwa dalam Bekerja
Takwa di sini terdapat dua pengertian.Pertama, taat melaksanakan perintah dan menjauhi segala bentuk larangan-Nya. Kedua, sikap tanggung jawab seorang muslim terhadap keimanan yang telah diyakini dan diikrarkannya. Orang yang bertakwa dalam bekerja adalah orang yang mampu bertanggung jawab terhadap segala tugas yang diamanahkan.Orang yang bertakwa atau bertanggung jawab akan selalu menampilkan sikap-sikap positif, untuk itu orang yang bertakwa dalam bekerja akan menampilkan sikap-sikap sebagai berikut:
1.       Bekerja dengan cara terbaik sebagai wujud tanggung jawab terhadap kerja dan tugas yang diamanahkan.
2.      Menjauhi segala bentuk kemungkaran untuk dirinya dan orang lain dalam bekerja. Misalnya, tidak malas-malasan, merugikan rekan kerja, dsb.
3.      Taat pada aturan.
4.      Hanya menginginkan hasil pekerjaan yang baik dan halal.

3.       Ikhlas dalam Bekerja
Ikhlas adalah syarat kunci diterimanya amal perbuatan manusia disisi Allah SWT. Suatu kegiatan atau aktivitas termasuk kerja jika dilakukan dengan keikhlasan maka akan mendatangkan rahmat dari Allah SWT. Adapun ciri-ciri orang yang bekerja dengan Ikhlas yaitu:
1.      Bekerja semata-mata mengharap ridha Allah SWT.
2.       Bersih dari segala maksud pamrih dan ria.
3.       Penuh semangat dalam mengerjakan seluruh tugas pekerjaan.
4.       Tidak merasa rendah karena makian atau cercaan sehingga tidak mengurangi semangat dalam bekerja

Mencari rezeki yang halal dalam agama Islam hukumnya wajib.Ini menandakan bagaimana penting mencari rezeki yang halal.Dengan demikian, motivasi kerja dalam Islam bukan hanya memenuhi nafkah semata tetapi sebagai kewajiban ibadah fardlu lainnya.Islam sangat layak untuk dipilih sebagai jalan hidup (way of life).Islam tidak hanya berbicara tentang moralitas akhlak, tetapi juga memberikan peletakan dasar tentang konsep-konsep membangun kehidupan dan peradaban tinggi.
Islam menganjurkan umatnya agar memilih aktivitas dan karir yang benar-benar selaras dengan kecenderungan dan bakatnya. Dengan demikian, Islam meletakkan dasar yang kuat akan kebebasan berusaha. Hanya saja, untuk menghindari gejala-gejala kejahatan, Islam meletakkan batasan-batasan.Tujuan itu dinyatakan dalam Al-Qur‟an dengan ungkapan bahwa bekerja adalah ibadah.
Menurut syari‟at, keridhaan Allah SWT tidak akan didapatkan jika kita tidak melaksanakan tugas tekun, sungguh dan sempurna. Ambisi seorang mukmin dalam bekerja yang paling utama adalah mendapatkan ridha Allah SWT.Dari ambisi yang mulia ini timbul sikap jujur, giat dan tekun. Firman Allah SWT (Q.SAt Taubah: 105)
"Bekerjalah kamu, Maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.(Q.S At Taubah : 105)
Ayat di atas memerintahkan agar kita bekerja, kerja itulah yang akan dilihat Allah SWT sebagaimana disebutkan dalam ayat tersebut tidak selalu bahwa yang satu dianugerahi derajat lebih tinggi dari yang lain, tetapi dimaksudkan bahwa kelebihan itu tidak lain daripada kelebihan keahlian dalam bidang kerja masing-masing. Dengan demikian, setiap orang pasti mempunyai kelebihan atas orang lain dalam bidang kerja tertentu dan dengan adanya kelebihan inilah setiap orang memerlukan bantuan orang lain untuk dapat terselenggaranya kebutuhan-kebutuhan hidupnya.

4.       Menyadari bahwa Bekerja adalah Ibadah
Dalam sebuah jurnal tentang budaya kerja menurut perspektif Islam menyimpulkan bahwa ruang lingkup ibadah di dalam Islam sangat luas sekali, tidak hanya merangkum kegiatan kehidupan manusia dengan Tuhan tetapi dalam bermu‟amalah juga. Setiap aktivitas yang dilakukan baik yang berkaitan dengan individu maupun dengan masyarakat adalah ibadah menurut Islam selagi memenuhi syarat-syarat tertentu, syarat-syarat tersebut adalah sebagai berikut:
1.      Amalan yang dikerjakan itu hendaklah diakui Islam, bersesuaian dengan hukum-hukum Islam dan tidak bertentangan.
2.       Amalan tersebut dilakukan dengan niat yang baik bagi tujuan untuk memelihara kehormatan diri, menyenangkan keluarga, memberi manfa‟at kepada umat seluruhnya dan memakmurkan bumi sebagaimana yang dianjurkan oleh Allah.
3.       Amalan tersebut mestilah dibuat dengan sebaik-baiknya demi menepati apa yang ditetapkan Rasulullah SAW, yaitu Allah SWT amat menyukai seseorang yang membuat suatu pekerjaan dengan bersungguh-sungguh dan dalam keadaan yang baik.
4.       Ketika membuat amalan tersebut hendaklah sesuai menurut hukum-hukum Islam dan ketentuan batasanya, seperti tidak menzalimi orang lain, tidak khianat, tidak menipu dan tidak menindas atau merampas hak orang lain.
5.       Tidak meninggalkan ibadah-ibadah khusus seperti sholat, zakat, dan sebagainya.
Jadi, aktivitas yang kita kerjakan untuk mencari nafkah jangan hanya kita niatkan untuk kehidupan dunia semata, melainkan kita niatkan ibadah kepada Allah SWT supaya amalan kita tidak menjadi amalan yang rugi ketika di akhirat kelak.Karena pada hakekatnya manusia diciptakan oleh Allah SWT hanyalah untuk beribadah kepada-Nya.

B.   Teori Motivasi Konvensional
Teori Motivasi Maslow (Teori Kebutuhan)
Abraham Maslow (1943;1970) mengemukakan bahwa pada dasarnya semua manusia memiliki kebutuhan pokok. Ia menunjukkannya dalam 5 tingkatan yang berbentuk piramid, orang memulai dorongan dari tingkatan terbawah. Lima tingkat kebutuhan itu dikenal dengan sebutan Hirarki Kebutuhan Maslow, dimulai dari kebutuhan biologis dasar sampai motif psikologis yang lebih kompleks; yang hanya akan penting setelah kebutuhan dasar terpenuhi. Kebutuhan pada suatu peringkat paling tidak harus terpenuhi sebagian sebelum kebutuhan pada peringkat berikutnya menjadi penentu tindakan yang penting;
1.       Kebutuhan fisiologis (rasa lapar, rasa haus, dan sebagainya)
2.      Kebutuhan rasa aman (merasa aman dan terlindung, jauh dari bahaya)
3.      Kebutuhan akan rasa cinta dan rasa memiliki (berafiliasi dengan orang lain, diterima, memiliki)
4.      Kebutuhan akan penghargaan (berprestasi, berkompetensi, dan mendapatkan dukungan serta pengakuan)
5.      Kebutuhan aktualisasi diri (kebutuhan kognitif: mengetahui, memahami, dan menjelajahi; kebutuhan estetik: keserasian, keteraturan, dan keindahan; kebutuhan aktualisasi diri: mendapatkan kepuasan diri dan menyadari potensinya).




Teori Motivasi Herzberg (Teori dua faktor)
Menurut Herzberg (1966), ada dua jenis faktor yang mendorong seseorang untuk berusaha mencapai kepuasan dan menjauhkan diri dari ketidakpuasan. Dua faktor itu disebutnya faktor higiene (faktor ekstrinsik) dan faktor motivator (faktor intrinsik).
1.      Faktor higiene memotivasi seseorang untuk keluar dari ketidakpuasan, termasuk didalamnya adalah hubungan antar manusia, imbalan, kondisi lingkungan, dan sebagainya (faktor ekstrinsik),
2.      Faktor motivator memotivasi seseorang untuk berusaha mencapai kepuasan, yang termasuk didalamnya adalah achievement, pengakuan, kemajuan tingkat kehidupan, dsb (faktor intrinsik).
Teori Motivasi Achievement (Teori Kebutuhan Berprestasi)
Teori yang dikemukakan oleh Mc Clelland (1961), menyatakan bahwa ada tiga hal penting yang menjadi kebutuhan manusia, yaitu:
1.      Need for achievement (kebutuhan akan prestasi)
2.      Need for afiliation (kebutuhan akan hubungan sosial/hampir sama dengan soscialneed-nya Maslow)
3.      Need for Power (dorongan untuk mengatur).

C.   Etos Kerja Islami
1.      Kerja Adalah Ibadah
Niatlah dalam kerjamu sebagai ibadah, pengabdian kepada Allah. Maka, pekerjaanmu akan sukses di dunia maupun akhirat.Ingatkah kamu Al Quran Surat Al An'am ayat 162 yang menyebutkan, "Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah."Allah juga berfirman dalam Alquran Adzariat: 56-57, "Tidak akan Aku ciptakan jin dan manusia, kecuali agar menyembah-Ku."

2.      Belanjakan Harta dari Kerja Dengan Baik
Kalau sudah bekerja keras dan mendapatkan harta, belanjalah sesuai kebutuhan, hindari sifat boros tanpa ada manfaat. Sebab, boros adan sifat syetan.Itu bukan berarti membuat Anda kikir atau pelit kepada sesama. Allah berfirman dalam Alquran Surat Al Furqon ayat 67, "Orang-orang yang membelanjakan harta tidak berlebihan dan tidak pula kikir, pembelanjaan itu berada di tengah-tengah antara yang demikian."


3.      Hindari Hal yang Diharamkan Allah
Anda tentu tahu, apa pekerjaan yang diharamkan Allah. Misalnya menjual diri, mencuri, menipu, dll. Semua yang diharamkan, hindarilah, maka kerja kerasmu akan mendapat ridho dari Allah. Etos kerja ditekankan dalam Islam.

4.      Hindari Unsur Maysir, Ghoror, Riba dan Batil
Dalam Islam, kerja keras harus halal, kembali pada poin di atas. Untuk itu, unsur-unsur yang diharamkan, seperti maysir, ghoror, riba dan batil tidak diperbolehkan.Apa itu riba? Misalnya, Anda kerja sebagai pemilik perbankan atau semacam bank titil. Meminjamkan uang dengan bunga mencekik. Kendati bekerja keras dan mendapatkan uang banyak, tetapi itu tidak sesuai prinsip-prinsip etos kerja dalam Islam.

5.      Kerja Keras Harus Halal
Agama Islam sangat jelas mewajibkan setiap Muslim untuk bekerja dari segala sesuatu yang halal, dari keringat yang halal.Seandainya kita pengusaha, pembisnis, wirausahawan, maka usaha kita harus halal, bebas riba, bebas penipuan atau kecurangan. Hal itu sesuai dengan ajaran Rasulullah Muhammad SAW. Kerja yang baik adalah kerja dari seorang lelaki dengan tangannya, dan semua jual-beli yang baik (mabrur, halal).
Islam memotivasi umatnya untuk berkompetisi dalam kebaikan, memiliki etos kerja yang baik, yang menentukan nilai hidup di dunia dan konsekuensi di akhirat kelak. Demikian disebutkan dalam firman Allah dalam QS. 2 (Al-Baqarah) : 148. Hubungan etos kerja dengan eskatologi, balasan di akhirat, memberikan kestabilan (istiqamah) pada setiap pribadi akan mendapatkan hasil kebaikan terhadap setiap amal baik yang dilakukan, yang tidak bergantung pada kreativitas manusia.







D.   Tujuan Pemberian Imbalan dan Hukuman Bagi Karyawan
Tujuan Pemberian Imbalan (Reward)
Menurut Hasibuan (1994) tujuan pemberian imbalan atau Kompensasi adalah :
1.      Sebagai ikatan kerja sama
Dengan pemberian imbalan atau kompensasi maka akan tercipta suatu ikatan kerja sama formal antara majikan dengan karyawan, disatu pihak karyawan mempunyai kewajiban untuk mengerjakan dengan baik semua tugas yang dibebankan perusahaan kepadanya, dipihak lain perusahaan mempunyai kewajiban membayar imbalan atau kompensasi sesuai dengan tugas yang dibebankan.
2.      Memberikan kepuasan kerja
Dengan pemberian imbalan atau kompensasi diharapkan karyawan dapat memenuhi kebutuhan fisiologis, kebutuhan sosial serta kebutuhan lainnya, sehingga karyawan memperoleh kepuasan kerja.
3.      Rekruitmen yang efektif
Apabila kebijaksanaan imbalan atau kompensasi yang akan diterapkan dipandang cukup besar, tentunya pengadaan karyawan yang qualified akan lebih muda.
4.      Alat untuk memotivasi
Imbalan atau kompensasi akan sangat mempengaruhi motivasi seseorang dalam bekerja. Tidak dapat dipungkiri bahwa untuk dapat memenuhi kebutuhannya, individu membutuhkan uang yang diperolehnya sebagai imbalan dari tempat ia bekerja, dan hal ini juga akan mempengaruhi  semangatnya dalam bekerja.
5.      Stabilitas karyawan
Imbalan yang cukup juga berpengaruh terhadap stabilitas karyawan. Keluar masuknya karyawan dapat ditekan bahkan bisa dikatakan tidak ada apabila imbalan yang diberikan dirasa cukup adil sehingga karyawan merasa nyaman dalam bekerja.

Tujuan Pemberian Hukuman (Punishment)
Sanksi hukuman berperan penting dalam memelihara kedisiplinan pegawai. Dengan sangsi hukum yang semakin berat, maka pegawai akan semakin takut untuk melanggar peraturan-peraturan perusahaan, sikap dan perilaku indispliner pegawai juga akan semakin berkurang.
Sanksi hukum harus diterapkan berdasarkan pertimbangan logis, masuk akal dan diinformasikan secara jelas kepada seluruh pegawai. Sanksi hukum harus bersifat mendidik pegawai untuk mengubah perilakunya yang bertentangan dengan peraturan/ketentuan yang sudah disepakati bersama.
Lebih jauh sanksi hukum haruslah wajar untuk setiap tingkatan indisipliner, sehingga dapat menjadi alat motivasi bagi pegawai untuk menjaga dan memelihara kedisiplinan dalam perusahaan.
Pengaruh dalam Kinerja Organisasi
Imbalan dan hukuman memberi pengaruh yang berbeda terhadap kinerja organisasi. Dengan adanya imbalan dapat memberikan motivasi terhadap anggota organisasi dari motivasi tinggi tersebut dapat memberikan hasil yang lebih dari yang diharapkan dalam organisasi. Dampak lainnya adalah munculnya persaingan antar anggota untuk memperoleh imbalan. Saling menjatuhkan. Kompetisi persaingan antar anggota.
Hukuman memberikan batasan terhadap organisasi sehingga visi misi dapat tercapai. Lebih berhati-hati agar tidak melakukan kesalahan yg dapat merugikan. Mengurangi resiko kesalahan dalam organisasi. Aktivitas organisasi berjalan lancar tanpa hambatan.









BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN
A.    Kesimpulan
Setelah kita membaca tulisan diatas, dapat disimpulkan bahwa motivasi itu sendiri dalam islam sangat terkait dengan masalah niat. Karena niatpun merupakan sebuah pendorong dalam melakukan sebuah kegiatan. Seperti dalam sebuah hadits dari Umar bin Khatab tentang niat.Karena motivasi itu disebut juga pendorong maka penggerak dan pendorong itu tidak jauh dari naluri baik bersifat negati ataupun positif. Dan sesungguhnya motivasi itu mengarahkan pada suatu tujuan.

B.     Saran
Penulis berharap makalah ini dapat menambah wawasan bagi seluruh Mahasiswa khususnya para pembaca agar tergugah untuk terus dapat meningkatkan kualitas Motivasi Islami dalam usahanya, dan dapat menambah pengetahuan bagi rekan-rekan mahasiswa. Demi penyempurnaan makalah ini, Kami mengharapkan kritik dan saran yang konstruktif.



BAB V
DAFTAR PUSTAKA
Winardi, Motivasi dan Pemotivasian dalam Manajemen Sumber Daya Manusia,Jakarta, PT Raja Grasindo Persada, 2007
Yusuf Qardhawi, Norma Dan Etika Ekonomi Islam, Jakarta, Gema Insani Press, 1997
Ahlami, Budaya Kerja Menurut Perspektif Islam , Bandung Tiga Rancana Press 2001


ARTIKEL POP CULTURE DAN KAPITALISME KONSUMERISME DAN KAPITALISME SEBAGAI DAMPAK DARI GLOBALISASI DAN BUDAYA POP


POP CULTURE DAN KAPITALISME
KONSUMERISME DAN KAPITALISME SEBAGAI DAMPAK DARI GLOBALISASI DAN BUDAYA POP
Oleh : Satria Avianda Nurcahyo

Latar Belakang Studi Budaya Populer
Dalam buku Teori Budaya dan Budaya Pop yang ditulis oleh John Storey,  Raymond Williams menyebut budaya bagai “satu dari dua atau tiga kata yang paling rumit dalam bahasa Inggris. Williams menawarkan tiga definisi yang sangat luas. Pertama, budaya dapat digunakan untuk mengacu pada “suatu proses umum perkembangan intelektual spiritual, estetis, para filsuf agung, seniman, dan penyair-penyair besarnya. Ini rumusan budaya yang paling mudah dipahami.Kedua, budaya bisa berarti “pandangan hidup tertentu dari masyarakat, periode, atau kelompok tertentu.” Ketiga, Williams menyatakan bahwa budaya pun bisa merujuk pada “karya dan praktik-praktik intelektual , terutama aktivitas artistik.” Dengan kata lain, teks-teks dan praktik-praktik itu diandaikan memiliki fungsi utama untuk menunjukkan, menandakan, memproduksi, atau kadang menjadi peristiwa yang menciptakan makna tertentu.
Menurut Raymond Williams dalam buku Teori Budaya dan Pop Culture yang ditulis oleh John Storey, mendefinisikan budaya pop (pop cultures) dengan dua kata terpisah. Yang pertama adalah popular, terhadap istilah ini Williams memberikan empat makna: “banyak disukai orang”, “jenis kerja rendahan”, “karya yang dilakukan untuk menyenangkan orang”, “budaya yang memang dibuat oleh orang untuk dirinya sendiri.” Kemudian, untuk mendefinisikan budaya pop kita perlu mengkombinasikan dua istilah, yakni “budaya” dengan “popular” yang keduanya memiliki formulasi definisinya sendiri-sendiri. Dari sisi sejarah, perjalanan teori budaya dengan budaya pop adalah suatu sejarah di mana dua istilah itu terhubung satu sama lain oleh pemakaian teoretis dalam konteks historis dan sosial tertentu.
Konsumerisme dan Kapitalisme
Budaya konsumen dilatarbelakangi oleh munculnya masa kapitalisme yang diusung oleh Karl Marx yang kemudian disusul dengan liberalisme. Budaya konsumen yang merupakan jantung dari kapitalisme adalah sebuah budaya yang di dalamnya terdapat bentuk halusinasi, mimpi, artifilsialitas, kemasan wujud komoditi, yang kemudian dikonstruksi sosial melalui komunikasi ekonomi (iklan, show, media) sebagai kekuatan tanda (semiotic power) kapitalisme.Asal mula konsumerisme dikaitkan dengan proses industrialisasi pada awal abad ke-19. Karl Marx menganalisa buruh dan kondisi-kondisi material dari proses produksi. Menurutnya, kesadaran manusia ditentukan oleh kepemilikan alat-alat produksi. Prioritas ditentukan oleh produksi sehingga aspek lain dalam hubungan antarmanusia dengan kesadaran, kebudayaan, dan politik dikatakan dikonstruksikan oleh relasi ekonomi.
Kapitalisme yang dikemukakan oleh Marx adalah suatu cara produksi yang dipremiskan oleh kepemilikan pribadi sarana produksi. Kapitalisme bertujuan untuk meraih keuntungan sebesar-besarnya, terutama dengan mengeksploitasi pekerja. Realisasi nilai surplus dalam bentuk uang diperoleh dengan menjual produk sebagai komoditas. Komoditas adalah sesuatu yang tersedia untuk dijual di pasar. Sedangkan komodifikasi adalah proses yang diasosiasikan dengan kapitalisme di mana objek, kualitas, dan tanda berubah menjadi komoditas.Seorang ilmuwan bernama Jean Baudrillard memandang bahwa budaya posmodernisme sebagai budaya masyarakat konsumen, tahapan kapitalis baru setelah Perang Dunia II. Selain itu, ilmuwan lain, Peter N. Stearns mengungkapkan bahwa kita hidup dalam dunia yang sangat diwarnai konsumerisme. Istilah konsumerisme, menurut Stearns :

.. consumerism is best defined by seeing how it emerged.but obviously we need some preliminary sense of what we are talking about. Consumerism describes a society in which many people formulate their goals in life partly through acquiring goods that they clearly do not need for subsistence or for traditional display. They become enmeshed in the process of acquisition shopping and take some of their identity from a posessionof new things that they buy and exhibit. In this society , a host of institutions both encourage and serve consumerism.. from eager shopkeepers trying to lure customers into buying more than they need to produce designer employed toput new twists on established models, to advertisers seeking ti create new needs..”
Konsumerisme, pada masa sekarang telah menjadi ideologi baru kita. Ideologi tersebut secara aktif memberi makna tentang hidup melalui mengkonsumsi material. Bahkan ideologi tersebut mendasari rasionalitas masyarakat kita sekarang, sehingga segala sesuatu yang dipikirkan atau dilakukan diukur dengan perhitungan material. Ideologi tersebut jugalah yang membuat orang tiada lelah bekerja keras mangumpulkan modal untuk bisa melakukan konsumsi.Budaya konsumen diciptakan dan ditujukan kepada negara-negara berkembang guna menciptakan sebuah pola hidup masyarakat yang menuju hedonisme. Budaya konsumen merupakan istilah yang menyangkut tidak hanya perilaku konsumsi, tetapi adanya suatu proses reorganisasi bentuk dan isi produksi simbolik di dalamnya.
Budaya Populer Membentuk Kapitalisme dan Konsumerisme
Gaya hidup merupakan cara hidup seseorang yang dapat diidentifikasikan dengan menilai bagaimana seseorang mengabiskan waktu mereka, apa yang mereka anggap penting bagi mereka (ketertarikan), dan apa yang mereka pikirkan tentang diri mereka sendiri dan juga tentang lingkungan sekitar. Gaya hidup setiap masyarakat tentu saja berbeda-beda dan tentu saja memiliki perubahan yang dinamis dari masa ke masa. Masyarakat modern adalah masyarakat konsumtif. Masyarakat yang terus menerus berkonsumsi. Namun konsumsi yang dilakukan bukan lagi hanya sekedar kegiatan yang berasal dari produksi. Konsumsi tidak lagi sekedar kegiatan pemenuhan kebutuhan-kebutuhan dasar dan fungsional manusia. Konsumsi telah menjadi budaya, budaya konsumsi.Perkembangan budaya konsumen telah mempengaruhi cara-cara masyarakat mengekspresikan estetika dan gaya hidup. Dalam masyarakat konsumen, terjadi perubahan mendasar berkaitan dengan cara-cara mengekspresikan diri dalam gaya hidupnya.
Gaya hidup telah menjadi ciri dalam dunia modern, sehingga masyarakat modern akan menggunakan gaya hidup untuk menggambarkan tindakannya sendiri dan orang lain. Dalam kaitannya dengan budaya konsumen, gaya hidup dikonotasikan dengan individualitas, ekspresi diri serta kesadaran diri yang stylistic. Tubuh, busana, gaya pembicaraan, aktivitas rekreasi, dsb adalah beberapa indikator dari individualisme selera konsumen. Gaya hidup adalah juga salah satu bentuk budaya konsumen. Karena gaya hidup seseorang dilihat dari apa yang dikonsumsinya, baik barang ataupun jasa. Konsumsi tidak hanya mencakup kegiatan membeli sejumlah barang atau materi, seperti televisi dan handphone. Akan tetapi, juga mengkonsumsi jasa, seperti rekreasi. Beberapa contoh dari gaya hidup yang nampak menonjol saat ini adalah nge-mall, hang out, fitness, dll.
Dalam arus globalisasi yang begitu pesat ini masyarakat harusnya mampu menyortir informasi yang layak untuk diperoleh. Perkembangan budaya konsumerisme hanya menguntukan para pemilik modal dan memanfaatkan masyarakat yang menjadi obyek. Budaya konsumerisme telah banyak merubah gaya hidup masyarakat saat ini. Masyarakat perlu untuk lebih teliti dan selektif lagi dalam menyaring informasi-informasi yang masuk.

Selain masyarakat yang selektif pemerintah pun perlu untuk lebih selektif lagi dalam menyaring informasi, budaya yang masuk, dan hal – hal barat yang masuk ke Indonesia karena pemerintah disini berperan sebagai salah satu juru kunci masuknya budaya popular dan konsumerisme. Pemerintah perlu untuk membuat regulasi yang dapat memperlambat perkembangan budaya konsumerisme yang begitu pesat. Apabila tidak ada kontrol yang kuat dari pemerintah dalam pembangunan pusat perbelanjaan di Indonesia, maka permasalahan konsumerisme masyarakat akan semakin susah untuk dikurangi.
Kesimpulan
Seperti yang telah kita ketahui bahwa globalisasi adalah hal yang tidak dapat dihindari, tentu saja hal tersebut tidak menutup kemungkinan jika kita pun akan terbawa dan mengikuti arus globalisasi tersebut. Perubahan gaya hidup masyarakat perkotaan tidak bisa dilepaskan dari kehadiran pusat-pusat perbelanjaan modern. Era baru budaya konsumen ditandai dan dilembagakan dengan lahirnya pusat-pusat perbelanjaan. Dalam masyarakat modern saat ini konsumsi telah menjadi suatu kebutuhan vital yang tidak hanya berguna secara instrumental atau sekedar mengambil atau menghabiskan nilai fungsional dari suatu komoditi.

DAFTAR PUSTAKA

Baudrillard, Jean P. 2004. Masyarakat Konsumsi (diterjemahkan oleh Wahyunto.) Yogyakarta : Kreasi Wacana.

Barker, Chris. 2004. Cultural Studies: Teori dan Praktik. Bantul : Kreasi Wacana.

Chaney, David. 2004. Life Styles, Sebuah Pengantar Komprehensif. Bandung : Jalasutra.

Featherstone, Mike. 2005. Posmodernisme dan Budaya Konsumen (Penerjemah Misbah Zulfa Elizabeth). Yogyakarta : Pustaka Pelajar.


Contoh Artikel Dakwah Religion (Fenomena Dakwah Artis Melalui Media)


Dakwah Religion
(Fenomena Dakwah Artis Melalui Media)
Oleh : Satria Avianda Nurcahyo 

Di era informasi canggih seperti sekarang ini, tidak mungkin dakwah masih hanya menggunakan pengajian di mushalla yang hanya diikuti oleh mereka yang hadir di sana. Penggunaan media-media komunikasi modern addalah sebuah keniscayaan yang harus dimanfaatkan keberadaannya untuk kepentingan menyampaikan ajaran-ajaran Islam atau dakwah Islam.Gaya penyampaian dakwah yang benar-benar baru ini langsung menerima sambutan hangat dari publik. Dakwah para da’i dan artis saat ini banyak yang direkam di CD dan di jual bebas,sehingga mudah bagi masyarakat untuk mendapatkan pesan dakwah dari para da’i dan artis yang diidolakan. Saat ini bisa dikatakan di setiap kota di Indonesia yang memiliki penduduk mayoritas beragama Islam, pasti dapat dengan mudah mendengarkan pesan-pesan dakwah baik melalui stasiun radio maupun televisi.
Fenomena dakwah agama di Indonesia ini adalah salah satu contoh sempurna untuk menunjukkan bagaimana lentur dan canggihnya Ideologi Kapitalisme bekerja menginfiltrasi dan merasuki semua ideologi bahkan agama yang secara formal menentangnya. Profesi Da’i pun tiba-tiba menjadi sebuah profesi yang bonafide dan menjanjikan. Sehingga mulai muncul da’i-da’i baru dengan gaya masing-masing. Dan sejak saat itu kitapun menyaksikan bisnis dakwah ini menjadi tidak ada bedanya dengan bisnis-bisnis konvensional yang untuk bisa sukses pelaku bisnis ini dalam menyusun strategi pemasaran harus jeli melakukan segmentation, tergeting dan positioning.Belakangan dengan semakin banyaknya muncul ustadz baru yang populer, persaingan di dunia per da’i-an ini pun semakin sengit, sehingga kreatifitas dalam merebut pasar dakwah ini pun harus semakin tinggi, sebegitu kreatifnya bahkan sampai ke hal-hal yang dulunya tidak pernah terbayangkan akan terjadi di dunia dakwah sekarang bisa kita saksikan di layar televisi dan media lainnya. Melalui tayangan televisi akan kita dapatkan beberapa program yang bernafaskan Islam, misalnya sinetron “Tukang Bubur naik Haji”, “Pesantren Rock n Roll”. Tanyangan pemburu hantu yang terdiri dari lima ustad dengan pakaian hitam dan sorbannya yang membantu korban dengan membacakan do’a-do’a. Reality Game Show Islami yang bisa kita lihat pada acara “pildacil” yang ingin mencetak generasi da’i cilik. Infomercials Penyembuhan alternatif baik melalui metode “rukyah” maupun metode “zikir”. Begitu juga dengan Islam dalam iklan, misalnya ustad maulana dalam iklan telkomsel, mamah dedeh dengan iklan “cap kaki tiga”. Begitu juga ustad Yusuf Mansur dengan iklan “fatigon Spirit”. Hal tersebut menurut Sofjan (2013: 51)[1], agama dan figur-figur keagamaan dilihat sebagai alat efektif dalam peningkatan citra dan kesadaran atas merek serta pemasaran. Sebagai panggung efektif untuk berkomunikasi dengan para konsumen, jelas terlihat bahwa televisi memandang agama dan figur-figur keagamaan sebagai mitra untuk melanggengkan industry melalui iklan dan pemanfaatan fungsional agama secara efektif .Dalam situasi menonton atau membaca memengaruhi makna dan kesenangan akan sebuah karya dengan mengajukan serangkaian determinasi ke dalam pertukaran kultural, baik kontradiktif maupun ditolak. Resistensi dan kontradiksi muncul karena perbedaan kultural dan sosial pembaca atau penonton menurut kelas, gender, ras, usia, sejarah, agama, pribadi, dan seterusnya.
Dalam kasus film Ayat-Ayat Cinta atau film-film bernuansa religius lainnya misalnya, apabila terus-menerus ditayangkan, dan dalam konteks tablig sebagaimana tujuan tablig misalnya, pemeran film (aktris merupakan konsumen pasif atas penonton. Implikasinya, tema-tema dan topik jalan cerita film bisa langsung dikonsumsi pemirsa, bersifat langsung dan menyerap pada saraf-saraf jiwa secara afektif.Salah satu unsur yang sangat khas dan ditemui hampir dalam semua film maupun sinetron Islami antara lain adalah penampilan pakaian perlengkapan dan aksesoris Islami yang sesuai dengan mode saat yang dikenakan oleh para actor maupun aktris dalam film maupun sinetron tersebut, akhirnya menjadi tren remaja muslim maupun orang dewasa di negeri ini.Penyampaian pesan-pesan Islam tidak lagi dengan kata-kata bahwa berkerudung itu wajib, menutup aurat itu kemestian seorang muslimah, apalagi bahasa-bahasa seperti hijab (arti katanya adalah menutup). Karena kata-kata tersebut kurang mengena arus kultur masyarakat, atau dalam bahasa lain, kata-kata tersebut tidak sesuai dengan perkembangan budaya masyarakat, dalam hal ini adalah budaya pop. Inilah salah satu kelebihan berdakwah melalui media, seperti televisi dan film (Aripudin, 2013: 37-38)[2].

Saat ini banyak majalah yang menyuguhkan fashion muslim dan atribut-atribut lain yang sesuai dengan syari’ah. Misalnya, majalah Aulia dan Paras yang beritanya banyak didominasi pada dunia fashion islami. Perihal penyampaian pesan-pesan Islam melalui majalah, pertama-tama yang harus diperhatikan, berkaca pada majalah-majalah sebagaimana tersebut dimuka adalah bagaimana meposisikan pesan-pesan Islam memasuki segmen pasar itu. Bagaimana remaja solehah misalnya, tidak hanya kata-kata yang keluar dari mulut, apalagi mulutnya bau, tapi terpampang dalam majalah dalam bentuk visual. Kata saleh tidak hanya terpampang dalam kitab-kitab kuning atau Quran yang suci, tetapi terpampang dalam majalah yang putih, juga berwarna, dan “tidak suci” sehingga mudah disentuh oleh siapa saja. Upaya melakukan trasfer pesan nilai-nilai Islam melalui musik dilakukan, meskipun terkesan dipaksakan, melalui nasyid (metode seni mendekat kepada Tuhan) dan lirik-lirik lagu pop yang bernuansa keagamaan. Sebagai contoh, syair lagu berjudu Santri yang dinyanyikan Armand Maulana vokalis Grup Band Gigi. Lagu tersebut, semula adalah lagu kasidah yang dinyanyikan vokalis grup kasidah Nasyidaria di Tasikmalaya. Lagu tersebut, semua populer di kalangan terbatas para santri dan masyarakat perdesaan. Kemudian ketika masuk dalam nuansa musik pop, lagu Santri dinyanyikan, digemari, dan didendangkan juga oleh kalangan mahasiswa. Pergeseran nuansa dan lirik lagu dari tradisional ke populer seperti lirik lagu Santri, menggambarkan adanya timbal balik bukan hanya simbolik, tetapi juga dimensi ekonomis komunikasi publik.

Dengan demikian, budaya yang disediakan oleh pasar hiburan komersial memainkan peran penting. Ia mencerminkan sikap dan sentimen yang telah ada di sana. Pada saat bersamaan menyediakan wilayah yang penuh ekspresi serta sederet simbol yang melalui simbol itu sikap tersebut bisa diproyeksikan (interaksi simbolik). Dakwah merupakan kewajiban bagi setiap umat Islam, baik itu pemaknaan pada fardhu ‘ain maupun fardhu kifayah. Melihat perkembangan dunia komunikasi dan informasi melalui alat-alat modern saat ini, tentunya akan menghampiri dakwah Islam juga. Memaknai dakwah yang sifatnya ajakan, seruan atau usaha untuk mengubah dari satu situasi kepada situasi yang lebih baik dan sempurna, baik terhadap pribadi maupun masyarakat. Perwujudan dakwah bukan sekedar usaha peningkatan pemahaman dalam tingkah laku dan pandangan hidup saja, tetapi juga mampu menuju sasaran yang lebih luas.[3]
Melihat masyarakat Indonesia saat ini yang memiliki gaya hidup hedonis dan lebih mengandalkan pada kenikmatan-kenikmatan yang bersifat praktis, Kecenderungan manusia dalam term dakwah ini membawa pengaruh unsure-unsur sosial. Begitu juga dengan para da’inya yang mempunyai akses pada saluran-saluran yang diminati dalam budaya masyarakat. Sedangkan da’i yang kurang memiliki akses terhadap elemen-elemen budaya pop seperti terjadi saat ini akan tergeser dan tergusur oleh da’i yang lebih menguasai (da’i yang mampu menggenggam dunia) dalam budaya dakwah artis hijrah  yang berkembang di masyarakat Indonesia.


[1] Dicky Sofjan, 2013, Agama dan Televisi di Indonesia: Etika Seputar

Dakwahtainment, Geneva: Globethics.net Focus 15.

[2] Acep  Aripudin,    2012,     Dakwah    Antarbudaya,      Bandung:    Remaja

Rosdakarya.

[3] Samsul Munir Amin, 2009, Ilmu Dakwah, Jakarta: Amzah.



Contoh Artikel Enterpreneur Leadhership Business Ala Rasullullah SAW Sebagai Inovasi Penggerak UMKM Melawan Discruptive Era


Enterpreneur Leadhership Business Ala Rasullullah SAW Sebagai Inovasi Penggerak UMKM Melawan Discruptive Era
Oleh : Satria Avianda Nurcahyo

Teknologi yang saat ini berkembang pesat sebagai penggerak bisnis belum mampu tersebar secara merata mencangkup sampai ke seluruh kalangan lapisan masyarakat teknologi sebagai promotor bisnis masih menguasai rentetan pasar kelas atas dalam strata persaingan dibandingan pasar bawah seperti UMKM, hal ini yang biasa kita sebut dengan era Discruptive, yaitu era penggerogotan pasar melalui teknologi, banyak UMKM yang baru berdiri sedang masa beranjak naik belum banyak memahami apa itu teknologi yang sebegitu luasnya memasuki pasar mereka, oleh karena itu perlu adanya inovasi penggerak untuk UMKM agar bisa melawan era discruptive dengan mengembangkan apa ciri khas yang dimiliki UMKM yaitu kerakyatan dan Tradisionalis dengan memadukan konsep mengembangkan bisnis usaha ala Rasullulah Muhammad SAW berikut ini kajian teori dari Enterpreneur Leadhership
Entrepreneurial leadeship adalah lebih sebagai pengusaha yang bisa menciptakan perubahan daripada bertransaksi dengan perusahaan lain [1]
Leadpreneurship adalah orang yang dapat mengubah sumberdaya bernilai rendah menjadi sumberdaya bernilai tinggi dengan risiko yang memadai melalui kepemimpinan yang efektif. Dari definisi tersebut maka dapat ditarik kesimpulan bahwa seorang Leadpreneurship adalah orang yang menggabungkan unsur entrepreneurship dengan leadership yang menjadikannya seorang wirausahawan dengan sifat kepemimpinan yang efektif [2] dengan dua teknik trobosan diatas dapat dipraktekan kepada SDM pemilik UMKM agar tidak takut menghadapi descruptive era dengan memanfaatkan dan mengembangkan apa potensi yang telah menjadi cirikhas UMKM tersebut diapdukan dengan jiwa Enterpreuner Leadhersip yang dimiliki untuk menghadapi pasar yang luas dengan berbagai teknologi. Untuk mewujudkan itu semua perlu ada bantuan dari pemerintah untuk menyediakan pelatihan bagi para UMKM serta Motivating agar mereka melek pasar dan tidak takut dalam bersaing. Dapat memotivasi para UMKM dengan sosialisai kiatan Enterpreneur Leadhersip Business Ala Rasullullah,banyak hal yang harus kita teladani dari beliau yang dapat kita baca dalam sejarah hidupnya termasukdalam hal berbisnis Dalam berbisnis yang dicontohkan oleh rasul adalah beliau menekankan kejujuran dalam perdagangan, karena dengan kejujuran maka kepercayaan akan muncul dari para pembeli sehingga mereka menjadi pelanggan kita. Untuk transaksi yang lain baik untuk barang yang sama ataupun barang yang baru mereka tidak lagi meragukan kredibilitas kita. Begitu pula dalam hal kualitas barang tentunya mereka pasti percaya. Begitu pula dalam timbangan, timbangan yang adil akan membuat pelanggan puas dengan transaksi yang mereka lakukan, apalagi menerangkan kualitas barang tersebut dimana kita dituntut harus menerangkan barang tersebut sesuai dengan kualitasnya dan tidak menyembunyikan cacat dari barang tersebut. [3]
Dan yang lebih penting lagi mengirim barang tepat waktu dan memperkirakan dengan matang barang yang akan dikirim dan menerangkan pada konsumen prosedur dan waktu untuk mengirimkan sehingga para pelanggan tidak dikecewakan oleh janji-janji yang tak pasti. Jika semua itu kita lakukan maka bisnis yang kita bina akan mendapatkan hasil yang baik. Dalam hal segi itulah yang tidak akan bisa dimiliki oleh seberapapun canggihnya teknologi untuk menarik konsumen jika tidak mulai membenahi karakter serta aqidah yang ada dalam SDM penggerak bisnis.Kita dapat memulai dari dalam terlebih dahulu dengan memanfaatkan sisi kelebihan UMKM inilah yang dapat secara langsung merakyat bersama konsumen, saling toleransi, bertatap muka secara kekeluargaan, berbincang bincang serta penarikan hati konsumen dengan cara membuat mereka nyaman dengan akhlaq serta karakter kita dalam berbisnis yang menjadikan satu keunggulan inovasi ini yang tidak dimiliki dalam descruptive era yang mengandalkan canggihnya teknologi tanpa membenahi dalamnya akhlaq dan karakter SDM sebagai penggeraknya.
Kemudian peran pemerintah sangatlah penting dalam mengembangkan inovasi Enterpreneur Ledhership ini,pemerintah juga yang merupakan promotor pembuat sebuah kebijakan dan tata aturan yang diharapkan masyarakat dapat memajukan perekonomian yang ada di dalam negri, melalui pelatihan pelatihan Enterpreneur Leadhership dibarengi dengan adanya motivating Konsep Berbisnis Ala Rasullulah untuk membenahi internal SDM kita dapat membayangkan betapa UMKM dapat pula menyaingi fasilitas teknologi yang serba instan. Dengan penarikan hati konsumen sehingga dapat menanamkan rasa cinta mereka terhadap Akhlaq para prmilik UMKM.


[1] Hadi, Yohan Wijaya dan Dhyah Harjanti (2013). Enterpreneurial Leadership dan Hubungannya dengan Kinerja Bisnis pada Usaha Mikro Kecil di Wilayah Jawa Timur. AGORA Vol. 1 No. 3 Hal. 165-167.
[2] Wijaya, Henryanto dan Kurniati W. Andani (2011). Peran Entrepreneurship dan Leadership dalam Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Indonesia.
[3] Prof. Laode Kamaluddin, Ph.D, Rahasia Berbisnis Ala Rsullulah