Selamat Datang Di Blog Sederhana Saya

Friday, 3 January 2020

ARTIKEL KONSEP EKONOMI ISLAM SEBAGAI SOLUSI ALTENATIF KRISIS PEREKONOMIAN BARAT

KONSEP EKONOMI ISLAM SEBAGAI SOLUSI ALTENATIF
KRISIS PEREKONOMIAN BARAT
Oleh : Satria Avianda Nurcahyo 

Latar Belakang
Perekonomian Barat kembali terguncang oleh adanya krisis ekonomi, yang diakibatkan oleh ketidakmampuan negara-negara di eropa dalam membayar hutangnya. Besaran angka yang muncul mengejutkan banyak pihak jika dilihat dari sudut pandang angka dasar ekonomi. Jika kita mengingat kembali, bahwa krisis ekonomi ekonomi di Eropa dimulai dari negara Yunani pada tahun 2009 yang tampak dari defisit anggaran yang mencapai angka 143 % dari produk domestik bruto (PDB). Dengan kata lain negara Yunani mendekati kebangkrutan karena hutang negara yang sangat besar dan sistem perbankan di negara tersebut juga mengalami hal yang sama.Pada bulan Mei 2010, beberapa negara eropa melalui ECB (Europe Central Bank) dan IMF (International Monetary Fund) berkomitmen memberikan dana talangan sebesar Rp 110 miliar euro untuk menghindarkan krisis yang melanda eropa secara menyeluruh. Akan tetapi kenyatannya dalam tempo hanya 1 (satu) tahun berikutnya ternyata krisis yang terjadi malah semakin dalam melanda negara Yunani dan merambah ke negara eropa lainnya seperti : Irlandia, Portugal dan Spanyol. Banyak pihak mengusulkan bahwa untuk mengatasi krisis ekonomi ini tidak hanya pihak negara yang mengatasinya, tetapi juga pihak swasta diharapkan ikut dilibatkan. Hasil dari penyuntikan dana penyelamatan oleh ECB dan IMF tersebut ternyata tidak memberikan hasil yang menggembirakan. Karena berbagai indikator ekonomi yang ada termasuk kurs euro mengalami guncangan hebat sampai mempengaruhi berbagai bursa pasar uang dan pasar modal di berbagai negara asia dan bursa lainnya didunia.
Utang dan Defisit Anggaran Negara – Negara Barat
Krisis pertama kali dipicu dari negara Yunani yang terjadi tahun 2009 yang kemudian mendapat dana talangan dari IMF dan negara Eropa. Kemudian dana sebesar Rp 110 miliar euro atau setara dengan Rp 1,314 triliun yang diberikan pada tanggal 21 – 22 juli 2011. Akan tetapi hal ini ternayata tidak mampu menolong lebih lanjut keterpurukan ekonomi makro negara Yunani yang mempunyai utang sampai 328 miliar euro dengan defisit mencapai 10,5% pada tahun 2010. Kondisi ini disikapi negatif oleh rakyat Yunani yang tidak mau menanggung kesalahan yang dibuat oleh para bankir dan eksekutif pemerintahan. Lebih spesifik bahwa kebijakan pengambilan utang untuk membiayai proyek pemerintah, sistem pengawasan pajak yang rendah, manipulasi akuntansi dituding sebagai penyebab awal terjadinya krisis serta tidak kuatnya basis ekonomi. Tingkat pertumbuhan ekonomi Yunani rata-rata pada tahun 1995 – 2008 mencapai 3,6% , tetapi di prediksikan akan mengalami penurunan pertumbuhan ekonomi sehingga menjadi -3%.Kondisi serupa terjadi di negara Portugal yang kondisi makro ekonominya juga mengalami kesulitan yang terlihat dari indikator rasio utang terhaap PDB tahun 2010 mencapi 93 % setara 195 miliar euro. Dan defisit anggaran mencapai -9,1 % terhadap PDB. Penyebab terjadinya krisis di negara karena belanja pemerintah yang terlalu besar, beban pinjaman di sektor properti yang besar dan peran produktivitas sektor swasta yang rendah. Akibatnya tingkat pertumbuhan dipredikasi akan merunun menjadi -1,5 % . Negara Irlandia juga mengalami rasio utang PDB sebesar 96,2 % dengan besaran utang mencapai 148 miliar euro dan defisit anggaran -32,4 %.
Dampak krisis ekonomi di zona Eropa mencapai negara Spanyol yang mempunyai hutang sebesar Rp 60,1 % dari jumlah total hutang Rp 638 miliar euro dan anggaran mencapi defisif -9,2 % serta pertumbuhan ekonominya hanya 0,8 % sampai tahun 2015 medatang. Penyebabnya serupa dengan kondisi di negara Irlandia yang disebabkan oleh sektor konstruksi. Ternyata efek domino mulai merambah juga ke negara Italy yang mempunyai utang sampai 1,9 trilyun euro dan defisit anggaran -4,6 % serta rasio utang 119 % PDB. Penyebab kondisi ini dipicu oleh ketidakmampuan pemerintah melakukan reformasi dan munculnya krisis politik.
Antisipasi Negara Indonesia
Bagaimana dampaknya bagi negara kita Indonesia, ternayata tidak berdampak cukup signifikan dikarenakan ekspor (eksposure) ke negara europa hanya mencapai 1 % dari nilai total ekspor Indonesia sehingga masih sangat terbatas. Transaski keuangan mencapai 10 % dan jumlah modal yang ditanamkan di Indonesia masih dibawah 2 %. Walaupun begitu posisi negara Indonesia tetap harus siap-siap menghadapi berbagai kemungkinan terburuk, yang bisa diwujudkan dalam bentuk perubahan APBN (APBN-P) yang dimungkinkan. Asumsi dalam APBN-P di harapkan telah memperhitungkan berbagai resiko-resiko fiskal dan tetap dipersiapkannya instrumen stabilisator apabila ada perubahan yang bisa terserap dengan melakukan pengelolaan resiko.Terdapat beberapa hal yang cukup baik di perekonomian Indonesia dalam upaya menangkal dampak krisis dari eropa (external shock), yaitu : APBN Indonesia yang saat ini lebih prudent, cadangan devisa (reserve) yang cukup besar, adanya capital inflow yang masuk ke dalam pasar, serta berbagai kebijakan moneter yang diharapkan cukup dipahami kalangan pelaku ekonomi.


Walaupun begitu perlu diwaspadai karena utang pemerintah Indonesia selama lima tahun terakhir meningkat sebnayak 30% mencapai Rp 178 miliar US dollar dengan bunga yang tinggi. Padahal kombinasi utang dan defisit anggaran sangat membahayakan. Apalagi jumlah dana jangka pendek (hot money) yang masuk ke Indonesia lebih tinggi dibanding sebelum krisis Yunani. Diperkirakan jumlahnya mencapai 110 miliar US dollar. Faktor-faktor tersebut juga bisa menyebabkan Indonesia cukup rentan (vulnerable) terhadap guncangan ekonomi eksternal. Walaupun rasio utang terhadap PDB Indonesia rendah. Tetapi yang lebih penting adalah indikator kemampuan pemerintah dalam membayar utang yaitu rasio pembayaran pokok dan bunga terhadap pendapatan pemerintah yang sudah sangat tinggi mencapai sepertiga
Ekonomi Islam sebagai Solusi Alternatif
Pertumbuhan ekonomi yang tinggi menurut konsep sistem ekonomi kapitalis perlu dikaji ulang. Karena pada kenyataanya upaya peningkatan kesejahteraan tidak diikuti oleh distribusi pemerataan kesejahteraan. Kondisi ini mengakibatkan munculnya gap yang semakin melebar antara sosial ekonomi golongan orang kaya dan golongan orang yang miskin. Berbagai kebutuhan sandang, pangan, papan (perumahan) yang layak tidak dapat terpenuhi dengan baik. Apalagi sektor pendidikan dan kesehatan sangat jauh dari mencukupi. Banyakmasalah baru sesungguhnya tengah diciptakan bagi golongan orang miskin melalui meningkatnya tingkat inflasi harga sehingga harga-harga kebutuhan semakin mahal.Saat ini, menurut E.J.Mishan dalam bukunya The Cost of Economic Growth, ada tanda-tanda peningkatan simptom anomali seperti stress, depresi, frustasi, kehilangan kepercayaan, alinasi antara orangtua dan anak, perceraian dan tindakan anarkhis. Ketegangan dimana-mana lebih terasa daripada keharmonisan, ketidakadilan lebih kentara daripada keadilan. Selain itu ternyata bahwa fenomena peningkatan volume barang dan jasa belum bisa memberikan sumbangan bagi kebahagiaan manusia. Karena kebahagiaan hakiki terletak pada kedamaian jiwa, yang tidak sekedar merupakan fungsi material tetapi juga keadaan spiritual agar masyarakat tidak mengalami degradasi moral yang memperihatinkan.Berdasarkan paparan-paran di atas dapat disimpulkan bahwa dibutuhkan sistem ekonomi yang menjanjikan solusi tepat dengan berharap pada konsep sistem ekonomi Islam.Keunggulan sistem ekonomi Islam berupa menyatunya nilai moral dan nilai spiritual didalam sistem tersebut. Nilai moral itulah yang tidak ada dalam kegiatan perekonomian model sistem ekonomi kapitalis ala barat. Jika tidak ada kontrol nilai moral, maka yang timbul adalah perilaku para pelaku ekonomi yang cenderung merusak dan dapat merugikan masyarakat umum. Sebagai contoh munculnya praktek-praktek monopoli, riba dan berbagai teknik kecurangan-kecurangan yang terus muncul dalam berbagai modus.
Kondisi diatas sudah mulai disadari oleh para ekonom, tentang pentingnya nilai-nilai moral dalam ekonomi. Fritjop Capra dalam bukunya, ”The Turningt Point, Science, Society, and The Rising Culture, menyatakan ilmu ekonomi merupakan ilmu yang paling bergantung pada nilai dan paling normatif di antara ilmu-imu lainnya. Ekonom lainnya E.F Schummacher , ekonom Ervin Laszlo dalam bukunya, “3rd Millenium, The Challenge and the Vision” mengemukakan hal serupa. Alternatif solusi yang ditawarkan oleh konsep ekonomi Islam dalam menghadapi krisis ekonomi yang terjadi saat ini ada 2 (dua) , yaitu : pertama, solusi yang bersifat parsial. Kedua, solusi yang bersifat komprehensif (kafah). Dalam solusi yang bersifat parsial, sistem ekonomi Islam berusaha mengganti faktor bunga sebagai faktor produksi dengan sistem bagi hasil, kemudian menghapus pasar sekunder dan pasar derivatif, dan memunculkan pasar modal serta perbankan syariah. Akan tetapi hal ini dianggap tidak akan memberikan hasil optimal jika sistem ekonomi tersebut sebenarnya tetap berjalan di atas guidance sistem ekonomi kapitalisme. Oleh karena itu sangat perlu untuk menerapkan sistem ekonomi Islam secara komprehensif (kafah), bukan penerapan secara parsial yang kurang memberikan dampak yang berarti. Didalam ajaran sistem ekonomi Islam terdapat 3 (tiga) asas pertama cara memperoleh hartakekayaan (al milkiyah), kedua cara mengelola kepemilikan harta kekayaan yang telah dimiliki (tasharuruf fil milkiyah),dan ketiga cara menditribusikan kekayaan tersebut di masyarakat (tauzi’ul tsarwah bayna an-naas)
Dalam hal kepemilikan harta kekayaan di sistem ekonomi Islam dibagi menjadi tiga jenis pertama Kepemilikan individu (private property), kedua Kepemilikan oleh negara (state property), ketiga Kepemilikan oleh umum (collective property)Kepemilikan individu dapat memiliki kekayaan dengan cara-cara kepemilikan tertentu sebagai berikut : dengan bekerja, adanya warisan, kebutuhan akan harta untuk mempertahankan hidup, harta yang diperoleh oleh seseorang tanpa mengeluarkan harta atau tenaga apapun. Khusus harta dengan kepemilikan individu yang masuk mekanisme pasar (syariah), sedangkan 2 (dua) jenis harta yang lain mengalir ke lembaga baitul mal.Kepemilikan umum dimaksud benda-benda yang dimiliki oleh suatu komunitas yang saling membutuhkan. Ekonomi Islam melarang kepemilikan benda tersebut dikuasai oleh seseorang atau sekelompok kecil orang. Adapun benda-benda yang termasuk dalam kepemilikan umum dikelompokan menjadi 3 (tiga) kelompok yaitu pertama Benda yang merupakan fasilitas umum, kedua Benda yang sifat pembentukannya mengahalangi unutk dimiliki hanya oleh individu secara perorangan, dan ketiga Bahan tambang yang jumlahnya sangat besar.

Kepemilikan negara berupa harta yang merupakan hak seluruh kaum muslimin yang pengelolannya menjadi wewenang negara, dimana negara dapat memberikan kepada sebagian warga negara sesuai kebijakannya. Untuk mewujudkan sistem tersebut diatas dibutuhkan perubahan peran negara yang lebih berani dengan mengubah sistem perekonomian menjadi berdasarkan Islam secara menyeluruh.Sistem Ekonomi Islam merupakan bagian dari seluruh sistem ajaran agama Islam yang berhubungan erat dan komphensif. Adanya kesesuaian, keselarasan dan keseimbangan dalam fitrah manusia inilah yang tidak menyebabkan konflik kepentingan. Kebebasan berekonomi terkendali (al-hurriyah) menjadi ciri dan prinsip sistem ekonomi Islam, seperti kebebasan memiliki unsur produksi dalam menjalankan roda perekonomian. Kebebasan individu tetap ada waaupun dengan syarat tidak merugikan kepentingan bersama atau publik masyarakat umum.Sehingga dengan kondisi tersebut diharapkan tidak akan merusak hubungan tatanan sosial. Adapun penegendaliannya dengan adanya kewajiban setiap individu terhadap masyarakatnya, atas perintah Allah Swt, melalui program zakat, infaq dan sedeqah.
Kesimpulan
Sistem ekonomi Islam memfokuskan pada 3 (tiga) aspek yaitu : cara memperoleh harta kekayaan (al milkiyah), cara mengelola kepemilikan harta kekayaan yang telah dimiliki (tasharuruf fil milkiyah) dan cara menditribusikan kekayaan tersebut di masyarakat (tauzi’ul tsarwah bayna an-naas).Saat sekarang ini merupakan momentum yang tepat untuk mengevaluasi sistem ekonomi yang telah berjalan menurut konsep barat, yang diharapkan dapat diganti dengan sistem ekonomi yang lebih berkeadilan dan lebih bermoral. Solusi yang bisa ditawarkan adalah konsep ekonomi syariah Islam. Tentunya hal ini perlu perjuangan yang terus menerus untuk menyakinkan semua pihak tentang sistem ekonomi Islam yang lebih berkeadilan. Sudah saatnya bagi negara-negara yang mayoritas masyarakatnya mayoritas muslim untuk lebih dahulu mempelopori dan memasyarakatkan dengan disertai bukti nyata manfaat dari sistem ekonomi Islam ini.





DAFTAR PUSTAKA
Al Jawi, M Shiddiq 2010. Sistem Ekonomi Islam. Jurnal Ekonomi.Jakarta
Antonio, Muhammad Syafii. 2001. “Bank Syariah : Dari Teori ke Praktik”. Gema  Insani. Jakarta
Capara, Fritjop. .2007. “Turning Point, Science, Society and the Rising Culture”. Jejak.Yogyakarta
Makhlani, Keruntuhan System Kapitalisme Dan Apakah Ekonomi Silam DapatMemimpin Dunia- Menyongsong Indonesia 2050, UIN Sunan Kalijaga Press Yogyakarta 2012
Mucdartsyah, Sinung. 2000. Manajemen Dana Bank. Bina Aksara. Jakarta
Ramli, Rizal. 2010. Krisis Utang Yunani. Sindo. Jakarta
Schummacer, EF. 2012. “Small is Beautifull : Meta Ecnomics”
Todaro, Michael, P. dan Stephen C. Smith. 2010. Pembangunan Ekonomi di Dunia.
Jakarta : Erlangga.
   Zain, SA.1981. Syariat Islam : Dalam perbincangan Ekonomi, Politik, dan Sosial sebagai Studi Perbandingan . Bandung.

Sumber Data Numeric :

Contoh Naskah Drama Cinta Islami


“ Menjaga dalam Doa “
Tokoh :
1.       Aini                        : Perempuan Muslimah, kalem lembut,dan apaadanya dari keluarga kaya
2.       Fadhil                    : Lelaki sederhana dari keluarga sederhana
3.       Bapak Aini           : Garang, Tegas, Gemuk
Kisah pendek ini berawal dari perjumpaan teman satu jurusan  dan satu Kampus Aini yaitu Fadhil, Fadhil mengenalbaik  Aini dan terpesona  oleh sifat dan akhlaq Aini sebagai seorang muslimah dan kemudian hari hari berlalu timbullah gejolak dalam diri Fadhil
Saat Ban Motor Aini Kempes pun Fadhil dengan ringan tangan menolong dan membuat Aini tersipu malu menundukkan Pandanganya, Mulai  dari itulah waktu kian berlalu dan mendekati kelulusan sarjana mereka saling menjaga satu sama lain dengan doa di tiap malam sunyi mereka.Kemudian perlahan mulai timbul gejolakkeraguan dalam diri Fadhil yang hanya naka orang biasa dan Aini dari keluarga yang kaya.
# Latar di Stasiun Kereta ( Fadhil di terima kerja di luar Pulau ) --- Mereka saling menjaga satu sama lain dalam doa ditiap 1/3 malam mereka dan dibarengi Aini yang melanjutkan studi S2 nya. Hingga tiba saat nya Aini dijodohkanoleh anak pengusaha, Fadhil mengetahui dari teman Aini dan dia bergegas pulang menemui orangtua Aini
Secuil Percakapan : ( Aini Mengintipdibalik Tembok)
Bapak : Emang kamu punya modal berapa mas buat nikahin anak saya?  Minimal 150 jt, itu di gedung karena Aini anak saya satu satunya dan ini hanya sekali seumur hidup
Fadhil : Jujur pak, saya belom ada jika segitu , Mungkin baru seperempatnya, dan sisanya akan saya perjuangkan pak
Kemudian Aini datang dan memotong pembicaraan dengan nada membentak dan menangis , Bapak..  bukankah Rasul mengajarkan untuk mempermudah mahar dan biaya menikah? Kenapa bapak jadi seperti ini kasian mas Fadhil pak .. :”(
Bapak : Sejak kapan kamu Aini berani melawan dan membentak bapak ? sejak kenal anak inikah ? HA
Fadhil : Maaf bapak dan aini, izinkan saya bicara, semenjak saya kenal aini saya tidak pernah melihatnya membentak guru, dosen maupun orang yang lebih tua denganya, namun jikamemang karena saya Aini berani membentak bapak saya akan mundur dan merelakan bapak menjodohkanyadengan yang lebih pantas
Aini : Menangis Tersedu L((
Bapak : Jika begitu Aini, apakah kamu iklas menikah dengan Fadhil ?
Aini : Kaget dan langsung memeluk orang tuanya
Fadil : Tersenyum gembira, dan mengatakan, pak apakah saya boleh ikut pelukan?
Bapak : Ngawur kamu bukan mahrom
Fadhil : hehe maksutnya meluk bapaknya saja bukan sama Aininya kwkw
Bapak : yasudah sinicium tangan saja
Aini : Tersenyum Haru dan saling tatap dengan fadhil

Puisi Fadhil Untuk Aini, bisadijadikan backsound saat menceritakan penantian dalam doa diambil sepetik saja ndapapa hehe
“Dibalik Tirai Malamku”

Dibalik tirai gelap menderu malam itu
Terdiamku  menunduk terpaku diantara angin berseru
Menuliskan kisah kisah tanpa ragu
Kisah dua insan yang saling memantaskan
Saling menjaga diri dari yang tidak dihalalkan

                                    Bak kisah cinta Ali  Fatimah
                                    Cinta dalam diam bahkan saling bermuhasabah
                                    Saling menjaga dalam untaian doa
                                    Berkhusnudzon pada ketetapan - Nya
                                    Mendamaikan hati saat ikhlas menerima

Perlahan pasti langkah ini tegap berdiri
Menyusuri lika liku dunia ini
Berhijrah menuju perubahan yang pasti
Beristiqamah menetapi keimanan didalam hati
Dimana di setiap nafas hanya mengharapkan ridha Ilahi

                                    Gantungkan harap hanya pada –Nya
                                    Harap pada insan hanya menimbulkan luka
                                    Tapi, ketetapan –Nya lah mendamaikan jiwa
                                    Malamku menderu, hingga kini tiba waktu
                                    Sepertiga malamku membangunkanku
                                    Untuk menepis rindu pada Sang Penciptaku
                                    Berkeluh kesah tentang dunia fana
                                    Yang terkadang menyilaukan mata membuai raga
                                    Hanya untaian doa yang saling menjaga
                                    Seperti lebah menjaga madunya

Soundtrack Lagu buat saran aja hehe
1.       Aci Cahaya – Ana Uhibuka Fillah
2.       Stigma – Istikharah Cinta
3.       Melly Goeslaw – Ketika Cinta Bertasbih
4.       Rossa – Takdir Cinta

MAKALAH Penerapan Motivasi Sebagai Penggerak Etos Kerja Islami


MAKALAH
Penerapan Motivasi Sebagai Penggerak Etos Kerja Islami

 Oleh : Satria Avianda Nurcahyo

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Dalam kehidupan sehari-hari, manusia dituntut untuk memenuhi kebutuhannya agar dapat melangsungkan kehidupannya. Salah satu cara untuk memenuhi kebutuhan tersebut adalah dengan bekerja. Namun sebagai orangmukmin, kita juga harus memperhatikan ajaran dan norma yang telah ditetapkan oleh Nabi Muhammad kepada kita. Karena Nabi Muhammad adalah seorang Uswah Hasanah yang telah memberikan banyak contoh dalam kehidupan kita dan tidak diragukan lagi kebenarannya.
Dalam konteks ajaran Islam tentang perekonomian (iqtishadiyah), bekerja adalah modal dasar ajaran Islam itu sendiri. Sehingga disebutkan seorang muslim yang bekerja adalah orang mulia, sebab bekerja adalah bentuk ibadah yang merupakan kewajiban setiap orang yang mengaku mukmin.Namun, dalam bekerja juga harus disertai dengan niat yang benar.Sebab, motivasi kerja merupakan dasar bagi manusia untuk memperoleh nilai ibadah dari Allah SWT.Karena segala sesuatu tergantung dari niatnya. Sehingga apabila niat kita salah dalam bekerja, maka kita tidak akan pahala dari Allah, dan amalan kita menjadi sia-sia di akhirat. Oleh sebab itu, dalam pembahasan ini, kami akan menjelaskan bagaimana motivasi kerja yang benar dalam Islam.



B.     Rumusan Masalah
1.      Apa itu Motivasi dari Sudut Konvensional dan Islami
2.      Teori – Teori Motivasi Konvensional
3.      Bagaimana Etos Kerja Islami
4.      Apakah Dampak Pemberian Imbalan dan Hukuman Bagi Karyawan





       BAB II
PEMBAHASAN
A.   Motivasi Dari Sudut Konvensional dan Islami
Motivasi Dari Sudut Konvensional
Motivasi berasal dari kata lain “Movere” yang berarti dorongan atau bahasa Inggrisnya to move. Motif diartikan sebagai kekuatan yang terdapat dalam diri organisme yang mendorong untuk berbuat (driving force). Motif tidak berdiri sendiri, tetapi saling berkaitan dengan faktor-faktor lain, baik faktor eksternal, maupun faktor internal. Hal-hal yang mempengaruhi motif disebut motivasi. Michel J. Jucius menyebutkan motivasi sebagai kegiatan memberikan dorongan kepada seseorang atau diri sendiri untuk mengambil suatu tindakan yang dikehendaki.Menurut Dadi Permadi, motivasi adalah dorongan dari dalam untuk berbuat sesuatu, baikyang positif maupun yang negatif.
Motivasi Kerja dalam Islam
Dalam buku yang berjudul Bekerja dengan Hati Nurani karya Akh. Muwafik Saleh,dikatakan bahwa selama ini, banyak orang bekerja untuk mengajar materi belaka demi kepentingan duniawi, mereka tak sedikitpun memerdulikan kepentingan akhirat kelak. Oleh karena itu sudah saatnya para pekerja bekerja dengan motivasi yang dapat memberikan kepribadian yang baik dan dibenarkan oleh Islam yang harus memenuhi ciri-ciri sebagai berikut:

1.       Niat Baik dan Benar (Mengharap Ridha Allah SWT)
Sebelum seseorang bekerja, harus mengetahui apa niat dan motivasi dalam bekerja, niat inilah yang akan menentukan arah pekerjaan. Jika niat bekerja hanya untuk mendapatkan gaji, maka hanya itulah yang akan didapat. Tetapi jika niat bekerja sekaligus untuk menambah simpanan akhirat, mendapat harta halal, serta menafkahi keluarga, tentu akan mendapatkan sebagaimana yang diniatkan. Rasulullah SAW bersabda:
Dari Saad bin Abu Waqqash ra, Rasulullah SAW bersabda kepadanya: “Sesungguhnya apa saja yang kamu nafkahkan (bekerja) yang kamu niatkan untuk mencari keridhaan Allah niscaya kamu akan diberi pahala sebagai apa yang kamu sediakan untuk makan istrimu.” (HR. Bukhari-Muslim).


2.       Takwa dalam Bekerja
Takwa di sini terdapat dua pengertian.Pertama, taat melaksanakan perintah dan menjauhi segala bentuk larangan-Nya. Kedua, sikap tanggung jawab seorang muslim terhadap keimanan yang telah diyakini dan diikrarkannya. Orang yang bertakwa dalam bekerja adalah orang yang mampu bertanggung jawab terhadap segala tugas yang diamanahkan.Orang yang bertakwa atau bertanggung jawab akan selalu menampilkan sikap-sikap positif, untuk itu orang yang bertakwa dalam bekerja akan menampilkan sikap-sikap sebagai berikut:
1.       Bekerja dengan cara terbaik sebagai wujud tanggung jawab terhadap kerja dan tugas yang diamanahkan.
2.      Menjauhi segala bentuk kemungkaran untuk dirinya dan orang lain dalam bekerja. Misalnya, tidak malas-malasan, merugikan rekan kerja, dsb.
3.      Taat pada aturan.
4.      Hanya menginginkan hasil pekerjaan yang baik dan halal.

3.       Ikhlas dalam Bekerja
Ikhlas adalah syarat kunci diterimanya amal perbuatan manusia disisi Allah SWT. Suatu kegiatan atau aktivitas termasuk kerja jika dilakukan dengan keikhlasan maka akan mendatangkan rahmat dari Allah SWT. Adapun ciri-ciri orang yang bekerja dengan Ikhlas yaitu:
1.      Bekerja semata-mata mengharap ridha Allah SWT.
2.       Bersih dari segala maksud pamrih dan ria.
3.       Penuh semangat dalam mengerjakan seluruh tugas pekerjaan.
4.       Tidak merasa rendah karena makian atau cercaan sehingga tidak mengurangi semangat dalam bekerja

Mencari rezeki yang halal dalam agama Islam hukumnya wajib.Ini menandakan bagaimana penting mencari rezeki yang halal.Dengan demikian, motivasi kerja dalam Islam bukan hanya memenuhi nafkah semata tetapi sebagai kewajiban ibadah fardlu lainnya.Islam sangat layak untuk dipilih sebagai jalan hidup (way of life).Islam tidak hanya berbicara tentang moralitas akhlak, tetapi juga memberikan peletakan dasar tentang konsep-konsep membangun kehidupan dan peradaban tinggi.
Islam menganjurkan umatnya agar memilih aktivitas dan karir yang benar-benar selaras dengan kecenderungan dan bakatnya. Dengan demikian, Islam meletakkan dasar yang kuat akan kebebasan berusaha. Hanya saja, untuk menghindari gejala-gejala kejahatan, Islam meletakkan batasan-batasan.Tujuan itu dinyatakan dalam Al-Qur‟an dengan ungkapan bahwa bekerja adalah ibadah.
Menurut syari‟at, keridhaan Allah SWT tidak akan didapatkan jika kita tidak melaksanakan tugas tekun, sungguh dan sempurna. Ambisi seorang mukmin dalam bekerja yang paling utama adalah mendapatkan ridha Allah SWT.Dari ambisi yang mulia ini timbul sikap jujur, giat dan tekun. Firman Allah SWT (Q.SAt Taubah: 105)
"Bekerjalah kamu, Maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.(Q.S At Taubah : 105)
Ayat di atas memerintahkan agar kita bekerja, kerja itulah yang akan dilihat Allah SWT sebagaimana disebutkan dalam ayat tersebut tidak selalu bahwa yang satu dianugerahi derajat lebih tinggi dari yang lain, tetapi dimaksudkan bahwa kelebihan itu tidak lain daripada kelebihan keahlian dalam bidang kerja masing-masing. Dengan demikian, setiap orang pasti mempunyai kelebihan atas orang lain dalam bidang kerja tertentu dan dengan adanya kelebihan inilah setiap orang memerlukan bantuan orang lain untuk dapat terselenggaranya kebutuhan-kebutuhan hidupnya.

4.       Menyadari bahwa Bekerja adalah Ibadah
Dalam sebuah jurnal tentang budaya kerja menurut perspektif Islam menyimpulkan bahwa ruang lingkup ibadah di dalam Islam sangat luas sekali, tidak hanya merangkum kegiatan kehidupan manusia dengan Tuhan tetapi dalam bermu‟amalah juga. Setiap aktivitas yang dilakukan baik yang berkaitan dengan individu maupun dengan masyarakat adalah ibadah menurut Islam selagi memenuhi syarat-syarat tertentu, syarat-syarat tersebut adalah sebagai berikut:
1.      Amalan yang dikerjakan itu hendaklah diakui Islam, bersesuaian dengan hukum-hukum Islam dan tidak bertentangan.
2.       Amalan tersebut dilakukan dengan niat yang baik bagi tujuan untuk memelihara kehormatan diri, menyenangkan keluarga, memberi manfa‟at kepada umat seluruhnya dan memakmurkan bumi sebagaimana yang dianjurkan oleh Allah.
3.       Amalan tersebut mestilah dibuat dengan sebaik-baiknya demi menepati apa yang ditetapkan Rasulullah SAW, yaitu Allah SWT amat menyukai seseorang yang membuat suatu pekerjaan dengan bersungguh-sungguh dan dalam keadaan yang baik.
4.       Ketika membuat amalan tersebut hendaklah sesuai menurut hukum-hukum Islam dan ketentuan batasanya, seperti tidak menzalimi orang lain, tidak khianat, tidak menipu dan tidak menindas atau merampas hak orang lain.
5.       Tidak meninggalkan ibadah-ibadah khusus seperti sholat, zakat, dan sebagainya.
Jadi, aktivitas yang kita kerjakan untuk mencari nafkah jangan hanya kita niatkan untuk kehidupan dunia semata, melainkan kita niatkan ibadah kepada Allah SWT supaya amalan kita tidak menjadi amalan yang rugi ketika di akhirat kelak.Karena pada hakekatnya manusia diciptakan oleh Allah SWT hanyalah untuk beribadah kepada-Nya.

B.   Teori Motivasi Konvensional
Teori Motivasi Maslow (Teori Kebutuhan)
Abraham Maslow (1943;1970) mengemukakan bahwa pada dasarnya semua manusia memiliki kebutuhan pokok. Ia menunjukkannya dalam 5 tingkatan yang berbentuk piramid, orang memulai dorongan dari tingkatan terbawah. Lima tingkat kebutuhan itu dikenal dengan sebutan Hirarki Kebutuhan Maslow, dimulai dari kebutuhan biologis dasar sampai motif psikologis yang lebih kompleks; yang hanya akan penting setelah kebutuhan dasar terpenuhi. Kebutuhan pada suatu peringkat paling tidak harus terpenuhi sebagian sebelum kebutuhan pada peringkat berikutnya menjadi penentu tindakan yang penting;
1.       Kebutuhan fisiologis (rasa lapar, rasa haus, dan sebagainya)
2.      Kebutuhan rasa aman (merasa aman dan terlindung, jauh dari bahaya)
3.      Kebutuhan akan rasa cinta dan rasa memiliki (berafiliasi dengan orang lain, diterima, memiliki)
4.      Kebutuhan akan penghargaan (berprestasi, berkompetensi, dan mendapatkan dukungan serta pengakuan)
5.      Kebutuhan aktualisasi diri (kebutuhan kognitif: mengetahui, memahami, dan menjelajahi; kebutuhan estetik: keserasian, keteraturan, dan keindahan; kebutuhan aktualisasi diri: mendapatkan kepuasan diri dan menyadari potensinya).




Teori Motivasi Herzberg (Teori dua faktor)
Menurut Herzberg (1966), ada dua jenis faktor yang mendorong seseorang untuk berusaha mencapai kepuasan dan menjauhkan diri dari ketidakpuasan. Dua faktor itu disebutnya faktor higiene (faktor ekstrinsik) dan faktor motivator (faktor intrinsik).
1.      Faktor higiene memotivasi seseorang untuk keluar dari ketidakpuasan, termasuk didalamnya adalah hubungan antar manusia, imbalan, kondisi lingkungan, dan sebagainya (faktor ekstrinsik),
2.      Faktor motivator memotivasi seseorang untuk berusaha mencapai kepuasan, yang termasuk didalamnya adalah achievement, pengakuan, kemajuan tingkat kehidupan, dsb (faktor intrinsik).
Teori Motivasi Achievement (Teori Kebutuhan Berprestasi)
Teori yang dikemukakan oleh Mc Clelland (1961), menyatakan bahwa ada tiga hal penting yang menjadi kebutuhan manusia, yaitu:
1.      Need for achievement (kebutuhan akan prestasi)
2.      Need for afiliation (kebutuhan akan hubungan sosial/hampir sama dengan soscialneed-nya Maslow)
3.      Need for Power (dorongan untuk mengatur).

C.   Etos Kerja Islami
1.      Kerja Adalah Ibadah
Niatlah dalam kerjamu sebagai ibadah, pengabdian kepada Allah. Maka, pekerjaanmu akan sukses di dunia maupun akhirat.Ingatkah kamu Al Quran Surat Al An'am ayat 162 yang menyebutkan, "Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah."Allah juga berfirman dalam Alquran Adzariat: 56-57, "Tidak akan Aku ciptakan jin dan manusia, kecuali agar menyembah-Ku."

2.      Belanjakan Harta dari Kerja Dengan Baik
Kalau sudah bekerja keras dan mendapatkan harta, belanjalah sesuai kebutuhan, hindari sifat boros tanpa ada manfaat. Sebab, boros adan sifat syetan.Itu bukan berarti membuat Anda kikir atau pelit kepada sesama. Allah berfirman dalam Alquran Surat Al Furqon ayat 67, "Orang-orang yang membelanjakan harta tidak berlebihan dan tidak pula kikir, pembelanjaan itu berada di tengah-tengah antara yang demikian."


3.      Hindari Hal yang Diharamkan Allah
Anda tentu tahu, apa pekerjaan yang diharamkan Allah. Misalnya menjual diri, mencuri, menipu, dll. Semua yang diharamkan, hindarilah, maka kerja kerasmu akan mendapat ridho dari Allah. Etos kerja ditekankan dalam Islam.

4.      Hindari Unsur Maysir, Ghoror, Riba dan Batil
Dalam Islam, kerja keras harus halal, kembali pada poin di atas. Untuk itu, unsur-unsur yang diharamkan, seperti maysir, ghoror, riba dan batil tidak diperbolehkan.Apa itu riba? Misalnya, Anda kerja sebagai pemilik perbankan atau semacam bank titil. Meminjamkan uang dengan bunga mencekik. Kendati bekerja keras dan mendapatkan uang banyak, tetapi itu tidak sesuai prinsip-prinsip etos kerja dalam Islam.

5.      Kerja Keras Harus Halal
Agama Islam sangat jelas mewajibkan setiap Muslim untuk bekerja dari segala sesuatu yang halal, dari keringat yang halal.Seandainya kita pengusaha, pembisnis, wirausahawan, maka usaha kita harus halal, bebas riba, bebas penipuan atau kecurangan. Hal itu sesuai dengan ajaran Rasulullah Muhammad SAW. Kerja yang baik adalah kerja dari seorang lelaki dengan tangannya, dan semua jual-beli yang baik (mabrur, halal).
Islam memotivasi umatnya untuk berkompetisi dalam kebaikan, memiliki etos kerja yang baik, yang menentukan nilai hidup di dunia dan konsekuensi di akhirat kelak. Demikian disebutkan dalam firman Allah dalam QS. 2 (Al-Baqarah) : 148. Hubungan etos kerja dengan eskatologi, balasan di akhirat, memberikan kestabilan (istiqamah) pada setiap pribadi akan mendapatkan hasil kebaikan terhadap setiap amal baik yang dilakukan, yang tidak bergantung pada kreativitas manusia.







D.   Tujuan Pemberian Imbalan dan Hukuman Bagi Karyawan
Tujuan Pemberian Imbalan (Reward)
Menurut Hasibuan (1994) tujuan pemberian imbalan atau Kompensasi adalah :
1.      Sebagai ikatan kerja sama
Dengan pemberian imbalan atau kompensasi maka akan tercipta suatu ikatan kerja sama formal antara majikan dengan karyawan, disatu pihak karyawan mempunyai kewajiban untuk mengerjakan dengan baik semua tugas yang dibebankan perusahaan kepadanya, dipihak lain perusahaan mempunyai kewajiban membayar imbalan atau kompensasi sesuai dengan tugas yang dibebankan.
2.      Memberikan kepuasan kerja
Dengan pemberian imbalan atau kompensasi diharapkan karyawan dapat memenuhi kebutuhan fisiologis, kebutuhan sosial serta kebutuhan lainnya, sehingga karyawan memperoleh kepuasan kerja.
3.      Rekruitmen yang efektif
Apabila kebijaksanaan imbalan atau kompensasi yang akan diterapkan dipandang cukup besar, tentunya pengadaan karyawan yang qualified akan lebih muda.
4.      Alat untuk memotivasi
Imbalan atau kompensasi akan sangat mempengaruhi motivasi seseorang dalam bekerja. Tidak dapat dipungkiri bahwa untuk dapat memenuhi kebutuhannya, individu membutuhkan uang yang diperolehnya sebagai imbalan dari tempat ia bekerja, dan hal ini juga akan mempengaruhi  semangatnya dalam bekerja.
5.      Stabilitas karyawan
Imbalan yang cukup juga berpengaruh terhadap stabilitas karyawan. Keluar masuknya karyawan dapat ditekan bahkan bisa dikatakan tidak ada apabila imbalan yang diberikan dirasa cukup adil sehingga karyawan merasa nyaman dalam bekerja.

Tujuan Pemberian Hukuman (Punishment)
Sanksi hukuman berperan penting dalam memelihara kedisiplinan pegawai. Dengan sangsi hukum yang semakin berat, maka pegawai akan semakin takut untuk melanggar peraturan-peraturan perusahaan, sikap dan perilaku indispliner pegawai juga akan semakin berkurang.
Sanksi hukum harus diterapkan berdasarkan pertimbangan logis, masuk akal dan diinformasikan secara jelas kepada seluruh pegawai. Sanksi hukum harus bersifat mendidik pegawai untuk mengubah perilakunya yang bertentangan dengan peraturan/ketentuan yang sudah disepakati bersama.
Lebih jauh sanksi hukum haruslah wajar untuk setiap tingkatan indisipliner, sehingga dapat menjadi alat motivasi bagi pegawai untuk menjaga dan memelihara kedisiplinan dalam perusahaan.
Pengaruh dalam Kinerja Organisasi
Imbalan dan hukuman memberi pengaruh yang berbeda terhadap kinerja organisasi. Dengan adanya imbalan dapat memberikan motivasi terhadap anggota organisasi dari motivasi tinggi tersebut dapat memberikan hasil yang lebih dari yang diharapkan dalam organisasi. Dampak lainnya adalah munculnya persaingan antar anggota untuk memperoleh imbalan. Saling menjatuhkan. Kompetisi persaingan antar anggota.
Hukuman memberikan batasan terhadap organisasi sehingga visi misi dapat tercapai. Lebih berhati-hati agar tidak melakukan kesalahan yg dapat merugikan. Mengurangi resiko kesalahan dalam organisasi. Aktivitas organisasi berjalan lancar tanpa hambatan.









BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN
A.    Kesimpulan
Setelah kita membaca tulisan diatas, dapat disimpulkan bahwa motivasi itu sendiri dalam islam sangat terkait dengan masalah niat. Karena niatpun merupakan sebuah pendorong dalam melakukan sebuah kegiatan. Seperti dalam sebuah hadits dari Umar bin Khatab tentang niat.Karena motivasi itu disebut juga pendorong maka penggerak dan pendorong itu tidak jauh dari naluri baik bersifat negati ataupun positif. Dan sesungguhnya motivasi itu mengarahkan pada suatu tujuan.

B.     Saran
Penulis berharap makalah ini dapat menambah wawasan bagi seluruh Mahasiswa khususnya para pembaca agar tergugah untuk terus dapat meningkatkan kualitas Motivasi Islami dalam usahanya, dan dapat menambah pengetahuan bagi rekan-rekan mahasiswa. Demi penyempurnaan makalah ini, Kami mengharapkan kritik dan saran yang konstruktif.



BAB V
DAFTAR PUSTAKA
Winardi, Motivasi dan Pemotivasian dalam Manajemen Sumber Daya Manusia,Jakarta, PT Raja Grasindo Persada, 2007
Yusuf Qardhawi, Norma Dan Etika Ekonomi Islam, Jakarta, Gema Insani Press, 1997
Ahlami, Budaya Kerja Menurut Perspektif Islam , Bandung Tiga Rancana Press 2001